Jalan Ki Mangunsarkoro No.12, Semarang, Jawa Tengah - 50241(024) 8419958
DINAS KEPEMUDAAN, OLAHRAGA DAN PARIWISATA
JAWA TENGAH

INFORMASI EKRAF JATENG

KRIYA DAN KULINER RAJAI INDUSTRI EKONOMI KREATIF JATENG
20 DES 2017 - 20:07

16 Subsektor ekonomi kreatif ada di Jawa Tengah (Jateng). Namun yang paling mendominasi hanya dua subsektor. Yakni, kriya atau kerajinan dan kuliner.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng Urip Sihabudin menjelaskan, kedua subsektor tersebut memberikan andil yang cukup besar. Selain kepada industri ekonomi kreatif itu sendiri, juga terhadap perekonomian nasional.

“Dari tahun ke tahun, sumbangannya ke PDB (Pendapatan Domestik Bruto) sampai 2017 ini terus meningkat. Kriya dan kuliner masih merajai,” ujar Urip pada seminar “Review Data dan Design Thinking Ekonomi Kreatif” di Hotel Kesambi Hijau, Semarang, Rabu (20/12).

Subsektor kriya berpusat di Jepara, Kudus dan Solo. Orientasi pemasarannya cenderung ke pasar domestik, yakni sebanyak 80 persen. Perusahaan yang melakukan ekspor masih rendah, hanya 13,09 persen. Dukungan pemerintah untuk subsektor ini cukup besar. Terlihat dari 56,45 persen usaha atau perusahaan pernah mendapat bantuan dari instansi pemerintah.

Prosentasi serupa juga terjadi di subsektor kuliner. Tingginya raihan subsektor ini banyak dipengaruhi pola pengeluaran kalangan milenial. “Ini yang sebenarnya kami manfaatkan. Momentum dimana mereka gemar membelanjakan uang untuk leisure. Terutama kuliner juga fashion,” lanjutnya.

Namun demikian, Urip tak menampik akan adanya potensi dari subsektor lain untuk menyusul. Seperti aplikasi dan game developer, arsitektur, serta desain interior yang berpeluang untuk terus berkembang. “Ya kan banyak itu lulusan IT, sangat banyak. Arsitektur dan interior juga. Jadi masih mungkin mereka untuk berlari di tahun-tahun berikutnya,” sambung Urip.

Sektretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Masdin Simarmata mengungkapkan, industri ekonomi kreatif perlahan tapi pasti menunjukan pertumbuhan yang cukup signifikan. Tahun ini, industri ekonomi kreatif menyumbang pada PDB sebanyak 7,82 persen. Angka itu meningkat dibanding tahun lalu sebesar 7,52 persen.

Bekraf akan melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan angka tersebut. Salah satunya dengan mengoptimalkan pendataan menyeluruh terhadap industri ekonomi kreatif. Terutama bagi mereka yang menjalankan usaha di daerah terpencil.

Seperti diketahui, industri ekonomi kreatif yang berlokasi di sejumlah daerah terpencil terkendala beberapa hal. Masalah infrastruktur seperti jalan yang rusak atau tidak adanya jaringan sinyal, turut menjadi penghambat dalam mengetahui jumlah indurstri kreatif secara keseluruhan.

“Makanya kami bekerja sama dengan BPS (Badan Pusat Statisik) di seluruh Indonesia untuk memperoleh data. Data yang sifatnya komunitas, kami peroleh dari asosiasi. Kemudian yang sifatnya internasional, kami dapat dari Kementerian Perdagangan,” papar Mesdin.

Tak berhenti sampai di situ saja, Bekraf juga masih mengumpulkan data yang berbasis sosial media. - JawaPos.com